Skip to content

Why Do It Today When You Can Put It Off Till Tomorrow: How do FEB UI Students Procrastinate Their Academic Tasks?

Primera

Introduction

Seringkali seorang mahasiswa berniat untuk mengerjakan tugas secara intensif tetapi berakhir menunda pekerjaannya karena teralihkan oleh notifikasi pesan singkat dari temannya. Fenomena ini terdengar tidak asing dan bahkan kita mengalami sendiri dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa. Fenomena ini dikenal sebagai procrastination atau kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, baik secara sadar maupun tidak. Procrastination sangatlah melekat dengan kehidupan akademik mahasiswa. Academic procrastination terjadi ketika siswa menunda penyelesaian tugas, proyek, atau aktivitas akademik lain yang semestinya tidak perlu ditunda. Procrastination di antara mahasiswa semakin umum terjadi dan sebuah studi menemukan bahwa 70% mahasiswa mengakui bahwa mereka secara rutin menunda atau melakukan procrastination (Schraw et al., 2007).

Procrastination sendiri dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu active procrastination dan passive procrastination. Active procrastination didefinisikan sebagai kecenderungan untuk bekerja di dalam tekanan, sehingga memilih dengan sadar untuk melakukan procrastination (Martini, 2013). Sedangkan passive procrastination adalah kecenderungan menunda pekerjaan karena tidak mampu mengambil keputusan dan mengikuti jadwal yang telah dibuat (Chu, A. H. C., & Choi, J. N., 2005). Melihat relevansi dan korelasi yang erat antara procrastination dengan kehidupan mahasiswa FEB UI, Divisi Penelitian Kanopi FEB UI dalam Primera kali ini ingin melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik procrastination mahasiswa FEB UI.

Data Penelitian

Dalam penelitian kali ini, data yang digunakan meliputi 196 responden yang terdiri dari 88 laki-laki dan 108 perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada mahasiswa/i aktif dari lima jurusan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yaitu Ilmu Ekonomi (36 orang), Akuntansi (39 orang), Manajemen (49 orang), Ilmu Ekonomi Islam (36 orang), dan Bisnis Islam (36 orang). Setiap jurusan terdiri dari mahasiswa yang berasal dari angkatan 2017-2020. Selanjutnya, kami membedakan asal daerah mahasiswa menjadi dua kategori, yaitu daerah Jabodetabek dan Non-Jabodetabek. Hasil analisis data akan kami uraikan berdasarkan empat faktor, yaitu jenis kelamin, daerah asal, jurusan, dan angkatan.

Bagian I: Active Procrastination

Bagian I menunjukkan skor active procrastination berdasarkan jenis kelamin, daerah asal, jurusan, dan angkatan.

Grafik 1.1 Skor Active Procrastination berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor active procrastination berdasarkan jenis kelamin di FEB UI menghasilkan skor 64,795 untuk pria dan 66,213 untuk wanita. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa skor active procrastination wanita lebih tinggi 1,418 poin dibandingkan pria. Namun demikian, setelah dilakukan pengujian Wilcoxon rank-sum test atau Mann-Whitney test ditemukan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik.

Grafik 1.2 Skor Active Procrastination berdasarkan Daerah Asal

Hasil perhitungan skor active procrastination berdasarkan daerah asal di FEB UI menghasilkan skor 66 untuk daerah Jabodetabek dan 64 untuk daerah Non-Jabodetabek. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa skor active procrastination Jabodetabek lebih tinggi 2 poin dibandingkan Non-Jabodetabek. Sama halnya dengan perbedaan skor active procrastination berdasarkan jenis kelamin, perbedaan skor berdasarkan daerah asal juga tidak signifikan secara statistik setelah dilakukan pengujian Wilcoxon rank-sum test.

Grafik 1.3 Skor Active Procrastination berdasarkan Jurusan

Hasil perhitungan skor active procrastination berdasarkan jurusan di FEB UI menghasilkan skor 66,083 untuk Ilmu Ekonomi, 66,510 untuk Manajemen, 66,67 untuk Akuntansi, 65,305 untuk Ilmu Ekonomi Islam, dan 62,89 untuk Bisnis Islam. Skor terendah dimiliki oleh jurusan Bisnis Islam. Dari data tersebut, dapat dilihat tidak ada perbedaan skor active procrastination yang signifikan antar jurusan. Perbedaan ini juga tidak signifikan secara statistik setelah dilakukan pengujian Kruskal-Wallis test.

Grafik 1.4 Skor Active Procrastination berdasarkan Angkatan

Hasil perhitungan skor active procrastination berdasarkan angkatan di FEB UI menghasilkan skor 65,333 untuk angkatan 2017, 65,578 untuk angkatan 2018, 65,781 untuk angkatan 2019, dan 65,436 untuk angkatan 2020. Dari data tersebut, dapat dilihat tidak ada perbedaan skor active procrastination yang signifikan di antara angkatan. Skor tertinggi dimiliki oleh angkatan 2019. Kendati demikian, hasil pengujian Kruskal-Wallis test menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Bagian II: Passive Procrastination

Bagian II menunjukkan skor passive procrastination berdasarkan gender, daerah asal, jurusan, dan angkatan.

Grafik 2.1 Skor Passive Procrastination berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 2.1 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Passive Procrastination berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor passive procrastination berdasarkan jenis kelamin di FEB UI menghasilkan skor 39,580 untuk pria dan 36,028 untuk wanita. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa skor passive procrastination pria lebih tinggi 3,552 dibandingkan wanita. Dengan kata lain, pria relatif lebih sering melakukan passive procrastination dibanding wanita. Hasil ini divalidasi menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test dimana perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 1%.

Grafik 2.2 Skor Passive Procrastination berdasarkan Daerah Asal

Hasil perhitungan skor passive procrastination berdasarkan daerah asal di FEB UI menghasilkan skor 37,455 untuk daerah Jabodetabek dan 38,238 untuk daerah Non-Jabodetabek. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa skor passive procrastination Jabodetabek lebih rendah 0,783 dibandingkan Non-Jabodetabek. Walaupun hasil deskriptif menunjukkan adanya perbedaaan hasil, tetapi hasil pengujian Wilcoxon rank-sum test menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidaklah signifikan secara statistik.

Grafik 2.3 Skor Passive Procrastination berdasarkan Jurusan

Hasil perhitungan skor passive procrastination berdasarkan jurusan di FEB UI menghasilkan skor 38,417 untuk Ilmu Ekonomi, 38,531 untuk Manajemen, 36,436 untuk Akuntansi, 35,306 untuk Ilmu Ekonomi Islam, dan 39,194 untuk Bisnis Islam. Dari data tersebut, dapat dilihat ada perbedaan skor passive procrastination antar jurusan, dengan skor terendah dimiliki oleh jurusan Ilmu Ekonomi Islam. Sama halnya dengan perbedaan skor passive procrastination berdasarkan daerah asal, perbedaan skor berdasarkan jurusan juga terbukti tidak signifikan secara statistik dalam pengujian Kruskal-Wallis.

Grafik 2.4 Skor Passive Procrastination berdasarkan Angkatan

Hasil perhitungan skor passive procrastination berdasarkan angkatan di FEB UI menghasilkan skor 37,846 untuk angkatan 2017, 37,978 untuk angkatan 2018, 37,849 untuk angkatan 2019, dan 36,564 untuk angkatan 2020. Angkatan 2020 menunjukkan skor terendah diantara angkatan-angkatan lainnya. Dari data tersebut, dapat dilihat tidak ada perbedaan skor passive procrastination yang signifikan antar angkatan. Hal ini divalidasi melalui uji asumsi menggunakan Kruskal-Wallis test.

Bagian III: Wilayah Procrastination

Grafik 3.1 Wilayah Procrastination berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan grafik diatas, antara pria dan wanita tidak ada perbedaan wilayah procrastination. Baik pria atau wanita relatif lebih sering melakukan procrastination pada ujian, paper ujian, dan tugas mingguan. Jika dilihat berdasarkan skor, skor pria lebih tinggi daripada wanita dalam procrastination di tugas mingguan dan perkuliahan umum, sedangkan wanita memiliki skor lebih tinggi dalam procrastination di paper ujian dan ujian. Akan tetapi, perbedaan tersebut tervalidasi tidak signifikan secara signifikan melalui pengujian asumsi non-parametrik Wilcoxon rank-sum test.

Grafik 3.2 Wilayah Procrastination berdasarkan Daerah Asal

Berdasarkan grafik diatas, tidak ada perbedaan wilayah procrastination yang signifikan antar daerah asal. Skor daerah Jabodetabek relatif lebih tinggi daripada Non-Jabodetabek dalam procrastination pada paper ujian, ujian, dan tugas mingguan, sedangkan lebih rendah pada perkuliahan umum. Sama halnya dengan jenis kelamin, perbedaan skor berdasarkan daerah asal tidak terbukti signifikan secara statistik.


Grafik 3.3 Wilayah Procrastination berdasarkan Jurusan

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa semua jurusan lebih sering melakukan procrastination pada ujian. Jika dilihat dari skor, jurusan Bisnis Islam memiliki skor procrastination tertinggi di ujian. Sementara jurusan Ilmu Ekonomi memiliki skor procrastination terendah di paper ujian, ujian, dan tugas mingguan. Walaupun ditemukan perbedaan skor di masing-masing wilayah procrastination, pengujian asumsi menunjukkan bahwa perbedaan skor tersebut tidaklah signifikan secara statistik.

Grafik 3.4 Wilayah Procrastination berdasarkan Angkatan
Grafik 3.5 Skor Ujian berdasarkan Angkatan

Tabel 2.2 Uji Kruskal-Wallis Skor Passive Procrastination berdasarkan Angkatan

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar pada wilayah procrastination antar angkatan, walaupun semua angkatan lebih sering melakukan procrastination di ujian. Secara skor, angkatan 2017 memiliki skor procrastination terendah di ujian. Sementara itu, angkatan 2020 memiliki skor procrastination terendah di paper ujian, tugas mingguan, dan perkuliahan umum. Lebih lanjut, angkatan 2018 memiliki skor procrastination tertinggi di semua wilayah procrastination. Dari berbagai wilayah procrastination yang ada, uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa perbedaan signifikan hanya terdapat pada ujian. Perbedaan ini terbukti signifikan pada significance level sebesar 10% 

Bagian IV Alasan Procrastination

A. Berdasarkan Gender

Grafik 4.1 Alasan Procrastination berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa beberapa alasan hanya memiliki perbedaan skor yang relatif kecil dan beberapa alasan memiliki perbedaan skor yang relatif besar. Melalui pengujian asumsi non-parametrik Wilcoxon rank-sum, diperoleh bahwa perbedaan signifikan terdapat pada alasan-alasan berikut: dependency and help seeking, rebellion against control, lack of self-confidence, dan fear of success.

Grafik 4.2 Skor Dependency And Help Seeking berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.1 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Dependency and Help Seeking berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor dependency and help seeking berdasarkan gender di FEB UI pada Grafik 4.2 menghasilkan skor 6,011 untuk pria dan 5,361 untuk wanita. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa skor dependency and help seeking pria lebih tinggi 0,65 dibandingkan wanita. Hasil ini signifikan secara statistik setelah divalidasi menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test pada level signifikansi sebesar 5%.

Grafik 4.3 Skor Rebellion Against Control berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Rebellion Against Control berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor rebellion against control berdasarkan jenis kelamin di FEB UI pada Grafik 4.3 menghasilkan skor 5,125 untuk pria dan 4,481 untuk wanita. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa skorpria lebih tinggi 0,644 dibandingkan wanita. Setelah divalidasi menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test, hasilnya signifikan pada level signifikansi 10%.

Grafik 4.4 Skor Lack of Self Confidence berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.3 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Lack of Self Confidence berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor lack of self confidence berdasarkan jenis kelamin menunjukkan hasil skor pria sebesar 6,045 dan skor wanita sebesar 5,36, sehingga skor lack of self confidence pria lebih tinggi 0,685 dibandingkan wanita. Hasil tersebut juga divalidasi menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test yang terbukti signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5%.

Grafik 4.5 Skor Fear of Success berdasarkan Jenis Kelamin (Signifikan 1%)
Tabel 4.4 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Fear of Success berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil perhitungan skor fear of success diatas menunjukkan hasil skor pria sebesar 4,477 dan skor wanita 3,583. Berdasarkan hasil tersebut, skor fear of success pria lebih tinggi daripada wanita sebesar 0,894. Setelah dilakukan validasi menggunakan uji Wilcoxon Rank-Sum, hasil menunjukkan bahwa uji tersebut signifikan pada level 1%.

B. Berdasarkan Daerah Asal

Grafik 4.6 Alasan Procrastination berdasarkan Daerah Asal

Grafik 4.6 menunjukkan bahwa beberapa alasan seperti tendency to feel overwhelmed dan lack of assertion memiliki perbedaan skor yang relatif kecil, sedangkan beberapa alasan seperti aversiveness dan peer influence memiliki perbedaan skor yang relatif besar. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan tersebut perlu diuji signifikansinya menggunakan pengujian asumsi non-parametrik Wilcoxon rank-sum. Dari pengujian tersebut, diperoleh bahwa perbedaan signifikan terdapat pada alasan-alasan berikut: aversiveness, fear of success, laziness, dan peer influence.

Grafik 4.7 Skor Aversiveness berdasarkan Daerah Asal (Signifikan 10%)
Tabel 4.5 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Aversiveness berdasarkan Daerah Asal

Hasil perhitungan skor aversiveness pada Grafik 4.7 menunjukkan hasil skor Jabodetabek 6,065 dan skor Non-Jabodetabek 5,476. Skor daerah Jabodetabek lebih besar dari Non-Jabodetabek  sebesar 0,589 dan hasil tersebut telah divalidasi menggunakan uji Wilcoxon Rank-Sum yang menunjukkan hasil signifikan secara statistik dengan tingkat signifikansi 10%.

Grafik 4.8 Skor Fear of Success berdasarkan Daerah Asal (Signifikan 10%)

Tabel 4.6 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Fear of Success berdasarkan Daerah Asal

Berdasarkan Grafik 4.8, dapat dilihat skor fear of success daerah Jabodetabek sebesar 3,87, lebih rendah 0,51 dari skor Non-Jabodetabek sebesar 4,38. Hasil tersebut setelah divalidasi menggunakan uji Wilcoxon Rank-Sum juga menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 10%.

Grafik 4.9 Skor Laziness berdasarkan Daerah Asal  (Signifikan 10%)
Tabel 4.7 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Laziness berdasarkan Daerah Asal

Hasil perhitungan skor Laziness berdasarkan daerah asal pada Grafik 4.8 menghasilkan skor Jabodetabek sebesar 7,104 dan skor Non-Jabodetabek 6,452. Hasil tersebut menunjukkan skor laziness daerah Jabodetabek lebih besar 0,652 dibandingkan daerah Non-Jabodetabek. Uji wilcoxon rank-sum juga telah dilakukan untuk memvalidasi hasil tersebut, dimana hasil yang diperoleh signifikan pada tingkat signifikansi 10%.

Grafik 4.10 Skor Peer Influence berdasarkan Daerah Asal  (Signifikan 10%)
Tabel 4.8 Uji Wilcoxon Rank-Sum Skor Peer Influence berdasarkan Daerah Asal

Hasil perhitungan skor peer influence pada Grafik 4.10 menunjukkan hasil skor daerah Jabodetabek sebesar 5,63 lebih tinggi 0,63 dari skor daerah Non-Jabodetabek sebesar 5. Selain itu, untuk memvalidasi hasil tersebut, uji Wilcoxon rank-sum juga telah dilakukan dengan hasil yang signifikan pada tingkat signifikansi 10%.

C. Berdasarkan Jurusan


Grafik 4.11 Alasan Procrastination berdasarkan Jurusan

Grafik 4.11 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan skor yang beragam di masing-masing alasan procrastination berdasarkan jurusan. Jurusan manajemen relatif konsisten memiliki skor tinggi dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya. Lebih lanjut, dua alasan dengan skor tertinggi adalah tendency to feel overwhelmed dan laziness. Namun demikian, perbedaan-perbedaan skor ini perlu diuji signifikansinya menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon rank-sum. Dari pengujian tersebut, diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam wilayah-wilayah procrastination berdasarkan jurusan-jurusan di FEB UI.

D. Berdasarkan Angkatan

Grafik 4.12 Alasan Procrastination berdasarkan Angkatan

Dalam Grafik 4.12 di atas, terlihat bahwa terdapat perbedaan skor yang beragam di masing-masing alasan procrastination berdasarkan angkatan. Dua alasan procrastination dengan skor tertinggi masih konsisten, yaitu tendency to feel overwhelmed dan laziness. Perbedaan-perbedaan skor ini kemudian diuji signifikansinya menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon rank-sum. Dari pengujian tersebut, diperoleh bahwa perbedaan signifikan terdapat pada alasan perfectionism antar angkatan di FEB UI.

Grafik 4.13 Skor Perfectionism berdasarkan Angkatan (Signifikan 10%)
Tabel 4.9 Uji Kruskal-Wallis Skor Perfectionism berdasarkan Angkatan

Berdasarkan hasil skor perfectionism di Grafik 4.13, dapat dilihat bahwa angkatan 2017, 2018, 2019, dan 2020 berturut-turut memiliki skor 6,513, 5,755, 5,657, dan 6,564. Dari hasil tersebut, ditemukan bahwa angkatan 2020 memiliki skor perfectionism tertinggi dibandingkan angkatan lainnya. Hasil ini juga terbukti signifikan dengan tingkat signifikansi 10% ketika diuji menggunakan Kruskal-Wallis.

Conclusion

            Hasil penelitian yang kami lakukan secara garis besar menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecenderungan active dan passive procrastination diantara mahasiswa FEB UI berdasarkan variabel-variabel independen yang kami gunakan dalam penelitian ini. Namun, ditemukan perbedaan yang signifikan terkait passive procrastination berdasarkan jenis kelamin, dimana pria relatif lebih banyak melakukan passive procrastination. Dalam hal wilayah procrastination dalam kegiatan-kegiatan perkuliahan, perbedaan hanya ditemukan pada pengelompokan berdasarkan angkatan. Temuan paling menarik dalam penelitian ini adalah terkait alasan mahasiswa melakukan procrastination. Penelitian kami menemukan berbagai alasan yang spesifik menjelaskan alasan procrastination mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, daerah asal, dan angkatan. Salah satunya angkatan 2019 memiliki skor tertinggi melakukan procrastination dengan alasan laziness dan tendency to feel overwhelmed secara signifikan.

References

Chun Chu, A. H., & Choi, J. N. (2005). Rethinking procrastination: Positive effects of” active” procrastination behavior on attitudes and performance. The Journal of social psychology, 145(3), 245-264.

Martini Jr, F. (2013). The influence of active procrastination and passive procrastination on university students’ education and success in college.

McCloskey, J. (2012). Finally, my thesis on academic procrastination.

Reynolds, J. P. (2015). Factors affecting academic procrastination.

Schraw, G., Wadkins, T., & Olafson, L. (2007). Doing the things we do: A grounded theory of academic procrastination. Journal of Educational psychology, 99(1), 12.

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<