Skip to content

“It’s strictly business”: Examining the Economic Consequences of Mafia

Grandma Test

Judul Artikel : The Economic Costs of Organized Crime: Evidence from Southern Italy

Peneliti : Paolo Pinotti

Tahun : 2015
Publisher : John Wiley and Sons

Diulas oleh Ariel Bhaskara Haposan Sihombing

Pendahuluan

Kejahatan terorganisir (organized crime) dipercaya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah melalui berbagai tindakan ekstorsi, korupsi, penjualan barang dan jasa ilegal, dan lainnya. Bukti akan hal tersebut dapat dilihat dari kasus-kasus di Amerika Latin seperti Mexico dan Kolombia serta bekas negara komunis seperti Rusia dan Albania. Italia memiliki sejarah kejahatan terorganisir yang menarik karena kelompok-kelompok kejahatan terorganisir nya, seperti Mafia di Sisilia, Camorra di Campania, dan Ndrangheta di Calabria, telah bertahan melalui berbagai perubahan tatanan ekonomi dan sosial. Bahkan, pada periode setelah perang, kelompok-kelompok ini mampu berekspansi ke wilayah-wilayah tenggara Italia serta negara lain seperti AS dan Jerman.

Berbagai penelitian terdahulu telah mempelajari dampak ekonomi dari tindakan kriminal, seperti Becker (1968) dan Ehrlich (1973) yang menghasilkan berbagai literatur terkait dampak ekonomi dari tindakan kriminal di berbagai negara melalui berbagai metode. Namun, belum ada literatur terdahulu yang mempelajari dampak ekonomi dari tindakan kejahatan terorganisir berskala besar seperti mafia. Bukti terdahulu juga menemukan bahwa ada dampak yang besar dari kehadiran kejahatan terorganisir terhadap ekonomi suatu wilayah—lima wilayah dengan kehadiran kejahatan terorganisir tertinggi di Italia juga merupakan lima wilayah termiskin. Namun, besar kemungkinan bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antar keduanya (pertumbuhan ekonomi rendah menghasilkan kehadiran kejahatan terorganisir atau kehadiran terorganisir menghasilkan pertumbuhan ekonomi rendah). Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian untuk mempelajari dampak langsung dari kehadiran kejahatan terorganisir terhadap perekonomian. 

Dengan itu, peneliti bertujuan mempelajari dampak dari kejahatan terorganisir terhadap ekonomi suatu wilayah dengan menggunakan kasus mafia di Apulia dan Basilicata di Italia. Kedua wilayah ini merupakan subjek penelitian yang tepat karena pada periode pra-1970-an keduanya memiliki tingkat kehadiran kejahatan terorganisir yang relatif rendah dan sama dengan wilayah lainnya yang tidak terpengaruh oleh mafia. Kehadiran mafia di Apulia dan Basilicata bersifat mendadak dan disebabkan oleh pergeseran titik masuk penyelundupan tembakau dari Laut Tirenia menjadi Laut Adriatik. Untuk memperoleh dampak kausal dari kejahatan terorganisir terhadap ekonomi, peneliti membandingkan pertumbuhan ekonomi Apulia dan Basilicata pada periode sebelum dan sesudah kehadiran mafia dengan wilayah lainnya yang tidak terdampak oleh mafia.

Data dan Metodologi

Secara keseluruhan, penelitian dibagi menjadi dua studi. Studi pertama bertujuan mengidentifikasi dampak dari kehadiran mafia terhadap GDP per capita di wilayah Apulia dan Basilicata. Untuk itu, peneliti membandingkan tingkat pertumbuhan GDP per capita Apulia dan Basilicata dengan wilayah-wilayah yang menjadi synthetic control, yakni wilayah-wilayah lainnya di Italia (kecuali Sicilia, Campania, dan Calabria) yang telah dibobotkan sehingga menghasilkan pembanding dengan karakteristik ekonomi semirip mungkin dengan Apulia dan Basilicata. Variabel dependen yang digunakan pada studi pertama merupakan GDP per capita, variabel independennya merupakan kehadiran mafia dan tingkat pembunuhan, dan variabel kontrol yang menjadi faktor pembobotan adalah GDP per capita, investasi/GDP, nilai tambah industri, nilai tambah agrikultur, nilai tambah jasa, nilai tambah sektor publik, modal manusia, dan kepadatan penduduk.

Studi dua bertujuan mempelajari mekanisme dari bagaimana kehadiran mafia berpengaruh terhadap GDP per capita. Untuk itu, peneliti menggunakan synthetic control method untuk membandingkan konsumsi listrik di Apulia dan Basilicata dengan wilayah lainnya sebelum dan sesudah kehadiran mafia. Peneliti juga melakukan prosedur growth accounting, yakni sebuah prosedur yang digunakan untuk menguraikan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Prosedur growth accounting dilakukan dengan metode regresi OLS dengan GDP dan nilai tambah sebagai variabel dependen dan tenaga kerja, modal, modal swasta, dan modal publik sebagai variabel independen.

Hasil dan Pembahasan

Studi Pertama

Menilai keabsahan dan kecocokan synthetic control

Tabel 1 menyediakan statistik deskriptif terkait Apulia dan Basilicata serta wilayah-wilayah yang digunakan sebagai synthetic control. Angka pada kolom satu dan dua menunjukkan bahwa synthetic control yang digunakan cocok dari segi GDP per capita, human capital, dan sectoral shares. Namun, tabel juga menunjukkan bahwa ada perbedaan jauh untuk tingkat investment/GDP untuk kedua wilayah di mana Apulia dan Basilicata memiliki tingkat yang lebih tinggi. Meskipun begitu, kredibilitas synthetic control bergantung pada kecocokan outcome of interest yang digunakan, yakni GDP per capita, oleh karena itu, synthetic control layak digunakan sebagai pembanding.

Hasil Dasar Penelitian

Gambar 6 membandingkan data time series dari real GDP per capita dari Apulia dan Basilicata serta wilayah synthetic control. Dari gambar, kita bisa melihat bahwa GDP per capita di kedua wilayah tidak jauh berbeda sebelum 1970-an, yakni periode sebelum masuknya mafia ke wilayah Apulia dan Basilicata. Namun, pasca-1970-an, ketika terjadi kehadiran magia di Apulia dan Basilicata, pertumbuhan GDP per capita di wilayah tersebut mengalami perlambatan yang signifikan. 

Gambar 7 dan tabel 2 menunjukkan evolusi perbedaan GDP per capita serta tingkat pembunuhan di kedua wilayah. Angka menunjukkan bahwa pertengahan 1970-an merupakan sebuah periode turning point untuk tingkat pertumbuhan ekonomi Apulia dan Basilicata di mana perbedaan GDP per capita mengalami loncatan dari 1% menjadi -7% dan terus melebar sampai -16.6% pada periode 1990-an. Jika kita bandingkan dengan kolom tingkat pembunuhan pada kedua wilayah, loncatan perbedaan GDP per capita tersebut selaras dengan loncatan tingkat pembunuhan di Apulia dan Basilicata dari 1.1 pembunuhan per seratus ribu penduduk pada periode 1971-1975 menjadi 4.1 pembunuhan per seratus ribu penduduk pada periode 1976-1980. Dengan kata lain, kehadiran mafia, yang dilambangkan oleh loncatan tingkat pembunuhan, menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Apulia dan Basilicata relatif terhadap wilayah lainnya yang tidak mengalami kehadiran mafia.

Studi Kedua

Menggunakan konsumsi listrik sebagai pengukur aktivitas ekonomi

Pada bagian pertama studi kedua, peneliti bertujuan melihat dampak ekonomi dari kehadiran mafia menggunakan konsumsi listrik sebagai variabel dependennya. Satu kemungkinan perbedaan GDP per capita di kedua daerah disebabkan oleh perpindahan pekerja dan sumber daya dari sektor formal ke informal. Jika ini kasusnya, dampak ekonomi yang telah diperoleh sebelumnya merupakan sebuah overestimate  dari kondisi kesejahteraan yang sesungguhnya. Perpindahan sumber daya dari sektor formal ke informal hanya menunjukkan tingkat GDP per capita yang berbeda, tetapi sejatinya ada kemungkinan bahwa produktivitas di wilayah yang terdampak masih sama. Jadi, untuk mengatasi masalah ini, peneliti menggunakan konsumsi listrik sebagai pengukuran alternatif dari aktivitas ekonomi. Konsumsi listrik dinilai sebagai pengukur yang tepat karena hal tersebut dapat mengukur aktivitas ekonomi di sektor formal maupun informal.

Gambar 11 menunjukkan data time series (grafik kiri) dari konsumsi listrik serta evolusi konsumsi listrik dan tingkat pembunuhan (grafik kanan) di kedua daerah . Grafik time series menunjukkan bahwa konsumsi listrik di Apulia dan Basilicata lebih tinggi dibanding wilayah kontrol pada periode sebelum adanya kehadiran mafia (pra 1974). Nmun, pertumbuhan ini melambat pada periode setelah mafia memasuki wilayah Apulia dan Basilicata dan bahkan menjadi lebih rendah dibanding wilayah kontrol. Grafik evolusi konsumsi listrik dan tingkat pembunuhan menunjukkan bahwa perbedaan konsumsi listrik memuncak pada tahun 1974 dan setelah itu perbedaan mengecil dan menjadi negatif sampai akhir periode sampel. Dengan kata lain, hadirnya mafia di Apulia dan Basilicata (dilambangkan oleh loncatan tingkat pembunuhan) menyebabkan penurunan tingkat aktivitas ekonomi (dilambangkan oleh tingkat konsumsi listrik) wilayah tersebut relatif terhadap wilayah lainnya di Italia yang tidak mengalami kehadiran mafia.

Gambar 12 menunjukkan evolusi proporsi nilai tambah berbagai sektor di kedua wilayah. Sebelumnya, gambar 11 telah menunjukkan bahwa kehadiran mafia di APulia dan Basilicata telah menyebabkan penurunan drastis konsumsi listrik. Menurut penulis, satu kemungkinan akan hal tersebut adalah bahwa kehadiran mafia lebih mempengaruhi sektor-sektor intensif listrik seperti sektor industri. Kemungkinan tersebut didukung oleh gambar 12 yang menunjukkan adanya penurunan drastis dari proporsi nilai tambah dari sektor industri di Apulia dan Basilicata setelah kehadiran mafia. Selain sektor industri, kehadiran mafia juga menurunkan proporsi non-market services di Apulia dan Basilicata, yakni jasa-jasa yang disediakan secara gratis oleh pemerintah seperti edukasi, kesehatan, dan keamanan.

Penguraian faktor-faktor pertumbuhan ekonomi Italia

Untuk memahami lebih jauh bagaimana kejahatan terorganisir berdampak terhadap GDP per capita, peneliti melakukan prosedur growth accounting melalui regresi OLS dengan model sebagai berikut:

Sejatinya, menggunakan model di atas, peneliti ingin melihat bagaimana perubahan pada tenaga kerja (dilambangkan oleh l) dan modal (dilambangkan oleh k) mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi (dilambangkan oleh y) di wilayah-wilayah Italia.

Tabel 4 menunjukkan hasil regresi OLS untuk prosedur growth accounting. Hasil-hasil batas bawah dari tenaga kerja dan modal (kolom satu dan tiga) pada tabel menunjukkan bahwa perubahan jumlah tenaga kerja dan modal berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, hal tersebut dapat dilihat dari koefisien keduanya yang signifikan terhadap GDP maupun nilai tambah (value added). Tabel juga memungkinkan kita untuk menganalisis performa modal swasta dan modal publik. Hasil menunjukkan bahwa modal swasta berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sedangkan modal swasta tidak berpengaruh signifikan. Hasil tersebut selaras dengan penemuan terdahulu oleh Bonaglia et al. (2000) terkait rendahnya produktivitas modal publik di Italia.

Gambar 13 menunjukkan berbagai komponen dari pertumbuhan GDP di kedua wilayah. Gambar menunjukkan bahwa ada penurunan modal swasta di wilayah Apulia dan Basilicata dibanding wilayah lainnya. Di saat yang sama, grafik modal publik menunjukkan bahwa kehadiran mafia menyebabkan meningkatnya modal swasta dibanding wilayah lainnya di Apulia dan Basilicata. Di sisi lain, grafik lainnya, yang melansir jumlah faktor produksi total, angkatan kerja, pekerjaan sektor swasta, dan pekerjaan sektor publik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara Apulia dan Basilicata dengan wilayah lainnya di Italia. Secara keseluruhan, prosedur growth accounting yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa kehadiran mafia menyebabkan pelarian modal swasta dari Apulia dan Basilicata serta meningkatnya tingkat modal publik di wilayah tersebut.

Kesimpulan

Penelitian ini telah berhasil menyediakan bukti terawal akan dampak ekonomi dari kejahatan terorganisir. Menggunakan synthetic control method, peneliti mempelajari dua wilayah di Italia yang terpapar kehadiran mafia dan menemukan bahwa kejahatan terorganisir menyebabkan “hilangnya” GDP per capita sebesar 16% dibanding wilayah yang tidak terpapar kehadiran mafia. Lebih lanjut, melalui prosedur growth accounting, penulis menemukan bahwa dampak tersebut disebabkan oleh realokasi modal swasta menjadi modal publik yang telah dibuktikan tidak seproduktif modal swasta. Akhir kata, peneliti menyadari tiga limitasi dari penelitian ini, yakni: 1) pendekatan yang diambil tidak menyediakan banyak ruang untuk meneliti mekanisme-mekanisme dibaliknya dengan lebih dalam, 2) hasil tidak dipastikan dapat digeneralisasikan untuk kasus kejahatan terorganisir di wilayah atau negara lainnya, dan 3) hasil yang diperoleh terkait GDP saja tidak sepenuhnya mencerminkan hilangnya kesejahteraan suatu wilayah yang mengalami kehadiran mafia.

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<