Skip to content

Is British Colonization “better” than the French?

Grandma Test

Judul Paper : French and British Colonial Legacies in Education: Evidence from the Partition of Cameroon? 

Peneliti : Yannick Dupraz

Tahun : 2019

Publisher : The Journal of Economic History

Diulas oleh Ariel Toar Willem Massie

Latar Belakang

Sebelum Perang Dunia I, Kamerun merupakan bagian dari koloni Jerman. Pasca-kekalahan Jerman di Perang Dunia I, daerah Kamerun dibagi kepada Prancis dan Inggris. Inggris sendiri lebih tertarik dengan koloni Jerman di Afrika lainnya, sehingga sebagian besar dari wilayah Kamerun menjadi bagian dari Prancis. Bagian Inggris dari Kamerun ini pun secara administratif digabungkan dengan Nigeria, sedangkan daerah bagian Prancis menjadi Kamerun Prancis.

Terdapat beberapa perbedaan dalam hal edukasi di antara wilayah Kamerun di bawah Inggris dengan Kamerun Prancis. Sejak dari masa kolonial Jerman, misionaris-misionaris Kristen maupun Katolik telah menjadi penyedia pendidikan utama di daerah Kamerun. Hal ini juga berlanjut pasca-Perang Dunia I. Namun, terdapat perbedaan dalam insentif yang diberikan kedua pemerintah kolonial. Pemerintah Kolonial Inggris secara umum lebih banyak dan dermawan memberi subsidi kepada sekolah misionaris. Di tahun 1938, sekitar 7.8% sekolah misionaris di daerah Kamerun Inggris disubsidi oleh pemerintah kolonial. Angka ini relatif lebih besar dibandingkan jumlah sekolah yang disubsidi pemerintah kolonial prancis yang ada di angka 3%. Selain subsidi, sistem pendidikan di daerah Kamerun Inggris juga lebih terdesentralisasi, dimana sekolah publik biasanya dijalankan oleh orang lokal.

Kamerun merdeka dari pemerintahan kolonial di tahun 1960. Namun, proses kemerdekaan tersebut tidak terjadi secara damai. Konflik bersenjata terjadi di daerah Kamerun Prancis hingga akhirnya Pemerintah Prancis memberi kemerdekaan kepada pemerintah Ahmadou Ahidjo, presiden pertama Kamerun, yang pro-Prancis. Pasca-kemerdekaan Nigeria di tahun 1960, di tahun 1961 diadakan referendum di daerah Kamerun di bawah pemerintah kolonial Inggris. Hasil dari referendum tersebut adalah bagian utara dari Kamerun Inggris bergabung menjadi bagian dari Nigeria, sedangkan bagian selatan bergabung dengan Kamerun.

Data dan Ekonometrik

Menggunakan data sensus Kamerun di tahun 1976 dan 2005, peneliti menggunakan metode border discontinuity analysis untuk membandingan diskontinuitas daerah Kamerun Inggris dan Prancis sebagai berikut :

Di mana Sij merupakan variabel yang akan diisi dengan indikator-indikator untuk individual i yang tinggal di desa j , Sj merupakan variabel dummy yang akan bernilai 1 jika desa j berada di bekas daerah Inggris, f(geographic location) merupakan fungsi lokasi geografis desa j, dan xj adalah vektor untuk fixed effect etnis desa. Koefisien yang akan menjadi pusat perhatian penelitian ini adalah τ, yang menghitung diskontinuitas daerah dan akan bernilai positif jika indikatornya menguntungkan Kamerun sisi bekas Inggris.

Hasil

Tabel 2 menghitung diskontinuitas daerah jajahan Inggris terhadap indikator-indikator pendidikan menggunakan data dari sensus Kamerun di tahun 1976. Terlihat bahwa Pria yang lahir di antara tahun 1922–1931 memiliki kemungkinan 12.9 % lebih besar untuk sekolah, 10.2 %  lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan dasar, dan 1.3 % lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan menengah jika pria tersebut lahir berada di Kamerun bagian jajahan Inggris. Untuk pria yang lahir di antara tahun 1942–1951, mereka memiliki kemungkinan lebih kecil untuk sekolah maupun menyelesaikan pendidikan dasar, tetapi akan 5.9 % lebih mungkin untuk menyelesaikan pendidikan menengah jika pria tersebut lahir di Kamerun Inggris. Dari penemuan ini, terlihat bahwa untuk pria yang lahir di tahun 1922–1931, penjajahan Inggris membawa dampak yang positif terhadap edukasi mereka. Namun, “British Effect” ini menurun di pria kelahiran 1942–1951 dan hanya tetap positif dan signifikan dalam hal pendidikan menengah.

Hal serupa juga terlihat di angkatan kelahiran tahun-tahun selanjutnya. Tabel 3 menggunakan data sensus tahun 2005 untuk menghitung diskontinuitas daerah jajahan Inggris terhadap indikator-indikator pendidikan untuk pria kelahiran 1971–1980 dan 1981–1990. Terlihat bahwa penjajahan Inggris cenderung tidak berdampak sama sekali, bahkan berdampak negatif dalam hal dan kelulusan pendidikan dasar. Penemuan ini sejalan dengan kalkulasi di tabel 2 untuk pria kelahiran tahun 1943–1951. Namun, penemuan yang juga sejalan dengan data sensus 1976 adalah bahwa “British Effect” ini tetap bertahan dalam hal pendidikan menengah. Pria dengan kelahiran tahun 1971–1980 dan 1981–1990 memiliki kemungkinan menyelesaikan pendidikan menengah masing-masing 9.5 % dan 7.6 % lebih besar jika pria tersebut lahir di Kamerun Inggris. Selain itu, dari tabel 3 terlihat bahwa pria yang lahir di Kamerun Inggris memiliki durasi pendidikan yang lebih lama dibanding dengan pria yang lahir di Kamerun Prancis.

Dari kedua tabel, terlihat bahwa diskontinuitas atau dampak dari penjajahan Inggris terhadap edukasi di Kamerun tidaklah stabil. Pada awal partisi Kamerun, penjajahan Inggris membawa dampak dalam bidang edukasi yang positif dibanding Prancis. Namun, dampak ini berkurang mendekati kemerdekaan Kamerun dalam hal kesempatan bersekolah dan penyelesaian pendidikan dasar. Dalam hal penyelesaian pendidikan menengah dan durasi sekolah, daerah penjajahan Inggris tetap memiliki keunggulan dibanding Prancis hingga sekarang. Mengapa fenomena-fenomena ini terjadi?

Mengapa terdapat pola konvergen dan divergen di diskontinuitas seiring waktu berjalan?

Divergensi dalam diskontinuitas dapat dijelaskan lewat kebijakan pendidikan kedua pemerintah kolonial. Di Kamerun, pemerintah kolonial Inggris memberi insentif kepada misionaris untuk menyediakan pendidikan formal lewat subsidi. Tabel 5 menunjukkan pengeluaran kedua pemerintahan kolonial dalam pendidikan. Terlihat bahwa di tahun 1930an Pemerintah Kolonial Inggris memiliki pengeluaran untuk pendidikan per individu berusia sekolah lebih banyak dibanding Prancis. Dalam hal subsidi, di tahun 1937, subsidi untuk pendidikan di Kamerun Inggris enam kali lebih besar dibanding Kamerun Prancis. Porsi pengeluaran yang dialokasikan Inggris juga lebih besar dibandingkan Prancis yaitu 7,71 % dibandingkan 2,37 % di tahun 1937.

“British Effect” ini mulai berkurang pascamulai Perang Dunia II ketika kedua daerah mulai menaikkan pengeluaran pendidikan mereka. Di tahun 1950, kedua daerah menaikkan pengeluaran mereka. Namun, kenaikan tersebut lebih besar terjadi di Kamerun Prancis, dimana dalam jangka waktu 1937–1955 total pengeluaran per kapita Kamerun Prancis meningkat sebesar 6 kali dan total pengeluaran pendidikan meningkat sebesar 20 kali. Di tahun 1955, Kamerun Prancis memiliki pengeluaran edukasi 3 kali lebih besar dibanding Kamerun Inggris dan bahkan telah melampaui Inggris dalam subsidi.

Berkurangnya “British Effect” ini juga bisa dijelaskan lewat diskriminasi yang ada pasca-kemerdekaan Kamerun. Sejak reunifikasi, penduduk Kamerun bekas jajahan Inggris merasa didiskriminasi oleh pemerintahan yang Frankofon-sentris. Hal ini didukung dengan data jumlah sekolah di Kamerun. Dari panel 1 figur 7, terlihat bahwa diskontinuitas jumlah sekolah dasar per 100 anak usia sekolah awalnya divergen setelah tahun 1930. Namun, diskontinuitas ini menurun ke nol di periode 1950–1965 dan mulai stabil kembali di tahun 1990. Di panel ke 3 dan ke 4, terlihat bahwa turunnya positif “British Effect” ini dominan terjadi disebabkan sekolah dasar publik, bukan privat. Ini konsisten dengan perasaan didiskriminasi penduduk Kamerun bekas jajahan Inggris dan dapat menjelaskan mengapa diskontinuitas penyelesaian pendidikan dasar di Kamerun Inggris menurun seiring waktu berjalan di tabel 2 dan tabel 3.

Mengapa dampak positif penjajah Inggris tetap bertahan dalam hal pendidikan menengah?

Jika kita melihat figur 7, mendekati dari tahun 1985–2000, diskontinuitas jumlah sekolah menengah per anak usia sekolah bernilai negatif. Ini berarti di daerah fasilitas pendidikan menengah di Kamerun bekas jajahan Prancis lebih baik dibanding Inggris. Namun, jika dari fasilitas pendidikan telah lebih baik, mengapa tingkat kelulusan pendidikan menengah dan lama durasi sekolah tetap lebih unggul di Kamerun bekas jajahan Inggris (tabel 3)? Ini disebabkan oleh tingginya pengulangan kelas di sistem pendidikan Prancis. Pengulangan kelas, atau grade repetition, lebih umum terjadi di Prancis dibanding negara OECD lainnya (OECD, 2012). Penelitian lainnya dari Ndaruhutse et al. (2008) menemukan bahwa di Afrika tingkat rata-rata grade repetition rate tertinggi berasal dari negara-negara bekas jajahan Prancis. Dalam konteks Kamerun, di tabel 7, seorang siswa akan lebih mungkin mengulang setidaknya satu kelas jika mereka lahir di Kamerun Prancis (kolom 1). Namun, menariknya, tidak ada perbedaan dalam diskontinuitas kemampuan membaca dan menulis di kedua daerah (kolom 2 dan 3).

Kesimpulan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa legasi dari penjajah tidak bersifat permanen dan dapat diatasi lewat kebijakan-kebijakan nasional. Ini terbukti dari divergensi diskontinuitas yang disebabkan oleh kenaikan pengeluaran pendidikan Pemerintah Kolonial Prancis. Namun, ini tidak berarti bahwa sejarah kolonial suatu negara tidak penting. Legasi pendidikan Prancis yang diturunkan ke Kamerun, yaitu tingginya tingkat pengulangan kelas, masih terlihat pengaruhnya di pendidikan Kamerun bahkan 40 tahun pasca-kemerdekaan. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha untuk mengurangi tingkat pengulangan kelas agar lebih banyak lagi siswa yang menyelesaikan pendidikan lebih tinggi.

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<