Skip to content

Having Exams During Ramadan : Can You Make the Best out of Both?

Grandma Test

Judul Artikel : Having Exams during Ramadan: The Case of Indonesia 

Penulis : Chaikal Nuryakin , Pyan A. Muchtar , Natanael W.G. Massie , Sean Hambali

Tahun : 2022

Jurnal : Economics and Human Biology

Penerbit : Elsevier

Diulas oleh Caroline Jessie Deannabel

Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara berpenduduk paling padat di dunia dan terdiri dari berbagai etnis dan agama. Data Sensus terbaru yang tersedia (2010) menunjukkan bahwa 87,2% penduduk Indonesia beragama Islam. Selama bulan suci Ramadan, umat Islam menahan diri dari asupan makanan dan cairan dalam ritual keagamaan yang disebut puasa Ramadan. Puasa Ramadan telah terbukti mengurangi aktivitas fisik dan mental (Kadri et al., 2000; Roky et al., 2000). Sebaliknya, Hu dan Wang (2019) menunjukkan bahwa produktivitas pekerja muda berkurang secara signifikan hanya selama dua jam terakhir sebelum buka puasa. Afifi (1997) menemukan bahwa lebih dari setengah sampel mahasiswa mengalami penurunan kemampuan konsentrasi mereka saat menjalani puasa Ramadan. Beberapa penafsiran hukum Islam menunjukkan bahwa orang-orang dengan aktivitas berat, seperti pembangun, penambang, dan tentara, dikecualikan saat berpuasa. Namun, ujian bukanlah bagian dari pengecualian karena tidak menuntut aktivitas fisik yang berat; oleh karena itu, puasa masih wajib bagi para mahasiswa. 

Penelitian ini mempelajari dampak puasa Ramadan terhadap prestasi akademik mahasiswa Muslim. Lembaga akademik di banyak negara yang mayoritas penduduknya Muslim menyesuaikan kebijakan pendidikan mereka, seperti jadwal ujian, untuk mengakomodasi pelaksanaan puasa Ramadan. Namun, Universitas di Indonesia melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa selama masa puasa, bahkan ujian tetap dilaksanakan selama Ramadan. Peneliti mengkaji tiga jenis dampak terhadap hasil belajar siswa: (1) direct; (2) differential (antara ujian pada pagi hari dan sore hari mendekati berbuka puasa); dan (3) efek kumulatif puasa Ramadan terhadap prestasi akademik siswa (skor ujian).

Data dan Metodologi

Peneliti menggunakan SIAK-NG, sebuah basis data online terpusat yang dikerahkan oleh Universitas Indonesia berisi rincian lengkap tentang nilai dan demografi mahasiswa dan berisi informasi tentang catatan akademik mahasiswa, seperti mata kuliah yang diambil sepanjang tahun akademik dan nilai ujian setiap mata kuliah tersebut. Peneliti membatasi analisis hanya untuk mahasiswa FEB UI semester kedua tahun akademik 2017-2018 dan 2018-2019, karena FEB UI mengalami perubahan kurikulum selama tahun akademik 2016-2017. Tidak semua mata kuliah, baik dengan jenis kualitatif atau kuantitatif, yang diujikan dimasukkan ke dalam analisis. Selain itu, peneliti membatasi analisis hanya untuk ujian yang dilakukan on-site untuk ujian menengah dan akhir semester. Terakhir, peneliti hanya menyertakan mahasiswa yang mengikuti ujian tengah dan akhir semester, tidak termasuk mahasiswa yang hanya mengikuti salah satu ujian karena berbagai alasan (mereka yang putus sekolah, yang sakit saat ujian, dll.). Peneliti menggunakan metode 2 x 2 difference-in-difference setting dimana puasa Ramadan dianggap sebagai treatment. Periode ujian tengah dan akhir semester masing-masing dianggap sebagai sebelum dan setelah treatment. Lebih lanjut, control group dalam DD setting peneliti adalah kelompok mahasiswa non-Muslim, sementara treated group adalah kelompok mahasiswa Muslim. Asumsi penting dalam analisis peneliti adalah bahwa semua mahasiswa Muslim tidak menjalankan puasa sama sekali selama ujian tengah semester, dan menjalankan puasa setiap hari sepanjang periode Ramadan atau saat ujian akhir semester. Peneliti juga berasumsi bahwa siswa Non-Muslim tidak berpuasa selama ujian tengah atau akhir semester. 

Pertama, peneliti menggunakan persamaan OLS sederhana untuk mengukur average direct effect, yang mengetahui efek keseluruhan puasa Ramadan terhadap nilai ujian siswa sebagai berikut :

di mana i, j, k dan t masing-masing merupakan indeks dari individu, kelas, mata kuliah, dan periode. Variabel Y merupakan nilai ujian tengah dan akhir mahasiswa dalam sampel. Lalu y merupakan indeks untuk semester akademik, yaitu semester 2 tahun akademik 2017 dan 2018. Mi merupakan variabel dummy yang mewakili agama individu i (Muslim atau bukan) dan Rt adalah variabel dummy yang menunjukkan periode puasa atau ujian akhir semester. Dalam persamaan diatas, peneliti memasukan 𝛾y sebagai fixed effects dan 𝜆ijk  sebagai fixed effects kombinasi linear dari semester, kelas, dan mata kuliah untuk menangkap heterogenitas dari setiap kelas dalam setiap kombinasi mata kuliah-semester. X, W dan Z masing-masing merupakan vektor dari karakteristik tingkat individu, kelas, dan mata kuliah

Kedua, peneliti melanjutkan untuk menguji temuan yang diamati Hu dan Wang (2019), yaitu kinerja produktivitas yang lebih buruk menjelang waktu berbuka puasa karena jam kumulatif puasa yang cukup tinggi. Peneliti menguji apakah efek Ramadan, seperti yang dihipotesiskan, lebih negatif pada ujian sore hari dengan memperkirakan model triple differences berikut :

yang dimana dalam persamaan ini, peneliti memasukkan komponen Fkt, variabel dummy yang menunjukkan apakah ujian akhir semester untuk mata kuliah k pada semester t dilakukan pada sore hari.

Selanjutnya, dampak Ramadan terhadap kinerja akademik mahasiswa dapat bervariasi dari waktu ke waktu. Efeknya dapat berkurang seiring waktu ketika mahasiswa Muslim menyesuaikan strategi belajar mereka selama periode puasa. Untuk mengestimasi efek variasi waktu tersebut, kita mengubah persamaan di atas dengan mengganti dummy periode perlakuan dengan variabel periode waktu kontinu yang menunjukkan hari ke-n sejak hari puasa pertama, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

dimana NFDt adalah periode waktu kontinu dan perkiraan efek kumulatif ditunjukkan oleh η3.

Hasil Penelitian

  1. Direct Effect

Tabel 1. Difference-in-differences dari Nilai Ujian Semua Mata Kuliah

Grafik 1. Nilai Ujian Tengah dan Akhir Semester Mahasiswa, berdasarkan Jenis Mata Kuliah dan agama Muslim/Non-Muslim.

Grafik 2. Nilai Ujian Tengah dan Akhir Semester Mahasiswa, berdasarkan Waktu Ujian dan agama Muslim/Non-Muslim.

Pada Tabel 1 yang merujuk pada model (2.1), ditunjukkan bahwa sebelum berpuasa, mahasiswa non-Muslim memiliki nilai ujian yang relatif lebih tinggi daripada mahasiswa Muslim, dengan nilai rata-rata ujian mereka 2 poin lebih tinggi. Namun, ada perbedaan dalam skor antara kedua kelompok siswa selama periode berpuasa. Pada Tabel 1 dan Grafik 1, ditemukan bahwa selama masa berpuasa, kesenjangan nilai antara mahasiswa Muslim dan non-Muslim cenderung semakin sempit, dimana nilai mahasiswa non-Muslim menurun dan nilai mahasiswa Muslim meningkat. Secara rata-rata, hasil menunjukkan bahwa mahasiswa Muslim memiliki nilai ujian yang lebih rendah sebelum berpuasa. Grafik 2 menampilkan tren skor ujian yang diadakan pada pagi dan sore hari. Hipotesis awal peneliti adalah bahwa mahasiswa Muslim akan memiliki kinerja lebih buruk dalam ujian akhir semester yang diadakan pada sore hari karena kelelahan puasa yang telah menumpuk sepanjang hari. Namun, data yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa meskipun kedua kelompok agama mengalami pengurangan skor dalam ujian tengah dan akhir semester (sore hari), mahasiswa non-Muslim cenderung mengalami pengurangan skor yang lebih besar (1,98 poin) dibandingkan dengan rekan Muslim mereka (hanya 0,36 poin).

Tabel 2. Results from Several Specifications that were Based on Equation (2.1)

Tabel 2 memperlihatkan periode berpuasa telah meningkatkan nilai ujian mahasiswa Muslim sebesar 0,09. Dengan ketersediaan data dan asumsi yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti dapat memberikan dua kemungkinan yang terjadi tentang bagaimana perbedaan nilai antara mahasiswa Muslim dan non-Muslim menyusut selama periode Ramadan, yaitu mahasiswa non-Muslim mengalami penurunan kinerja selama periode tersebut, atau mahasiswa Muslim mengalami peningkatan kinerja akademik selama berpuasa (atau keduanya). 

Peneliti juga memeriksa apakah Ramadan memiliki efek yang cenderung bervariasi tergantung sub-sampel. Didapatkan bahwa Ramadan memang memiliki dampak yang berbeda-beda pada sub-sampel yang berbeda. Berdasarkan tes uji yang dilakukan, ditunjukkan bahwa Ramadan lebih berdampak positif di kalangan laki-laki daripada perempuan, namun perbedaan dampak tersebut tidak signifikan. Selain itu,  regresi sampel menunjukkan bahwa periode berpuasa tampaknya memberikan manfaat yang sedikit lebih tinggi bagi siswa yang relatif kurang beruntung, seperti mereka yang memiliki IPK rendah, dimana nilai ujian kelompok IPK menengah kebawah meningkat hampir 0,2 poin selama masa puasa. Mahasiswa dari wilayah non-Jakarta juga tampaknya mendapat manfaat lebih dari masa berpuasa, namun perbedaannya tidak signifikan dibandingkan dengan yang datang dari Jakarta. 

  1. Cumulative Effect

Tabel 3. Hasil Regresi berdasarkan Model (2.3) dengan Kelompok Dummy Mahasiswa beragama Muslim

Selanjutnya, Tabel 3 menyajikan hasil regresi yang berasal dari beberapa spesifikasi yang didasarkan pada model 2.3. Secara keseluruhan, kita menemukan bukti dampak kumulatif positif Ramadan. Dengan setiap hari Ramadan berlalu, nilai ujian mahasiswa Muslim cenderung meningkat sebesar 0,005. Hal ini dapat disebabkan karena pada tahun akademik 2017-2018 dan 2018-2019, periode ujian tidak dimulai pada awal periode puasa. Sebaliknya, ujian akhir semester genap pada tahun akademik  2017 dan 2018 masing-masing dimulai sebelas dan lima belas hari setelah dimulainya periode puasa tahun 2018 dan 2019. Awalan yang terlambat tersebut berpotensi memberikan mahasiswa waktu yang cukup untuk beradaptasi. Selain itu, mahasiswa dapat menyesuaikan kebiasaan belajar mereka seiring dengan periode ujian yang dapat meningkatkan skor dalam ujian yang diadakan pada akhir periode ujian. 

  1. Differential Effect

Tabel 4. Triple Differences Specification (DDD) outlined in the model (2.2)

Penelitian ini juga membahas apakah puasa Ramadan cenderung menyebabkan mahasiswa Muslim untuk memiliki kinerja lebih buruk saat ujian sore hari. Hasil regresi menunjukkan kurangnya perbedaan dampak puasa Ramadan antara saat ujian pagi dan sore. Penting untuk dicatat bahwa ujian sore hari di FEB UI dilaksanakan dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Oleh karena itu, kemungkinan besar pada saat itu, kelelahan akibat puasa belum terakumulasi ke tingkat yang cukup tinggi untuk memberikan dampak negatif pada nilai ujian. Dalam penelitian ini, karena ujian sore hanya dimulai dari tengah hari, sangat mungkin kalau mahasiswa Muslim beristirahat lebih awal di pagi hari untuk menghindari mengantuk selama ujian, sehingga mengurangi efek kelelahan akibat berpuasa.

Negara Indonesia yang mayoritas masyarakatnya Muslim membuat penting bagi peneliti untuk menguji spillover effect Ramadan terhadap control group, yaitu mahasiswa non-Muslim. Dalam spillover effect tersebut, assumption of stable unit treatment value (SUTVA) dapat dilanggar, sehingga estimasi treatment effect dapat bias (Cox, 1958). Dalam kasus ini, peneliti berpendapat bahwa ada beberapa kondisi di mana spillover effect tersebut dapat terjadi: (1) melalui perubahan di lingkungan yang didominasi oleh masyarakat Muslim, sehingga jadwal akademik dan fasilitas kampus menyesuaikan jam operasional mereka sesuai dengan periode puasa. Hal ini dapat berdampak buruk pada mahasiswa non-Muslim karena mereka mungkin terpaksa untuk berpindah lokasi belajar yang mungkin mempengaruhi kualitas belajar mereka; dan (2) melalui efek peer group.

Hasil regresi menunjukkan tidak ada bukti untuk spillover effect pertama. Namun, peneliti mengakui bahwa karena kurangnya ketersediaan data, peneliti tidak dapat sepenuhnya menghilangkan spillover effect kedua (melalui teman sebaya). Oleh karena itu, nilai ujian mahasiswa non-Muslim juga berpotensi negatif dipengaruhi oleh perubahan lingkungan belajar.

Kesimpulan

Dengan membandingkan nilai ujian mahasiswa Muslim dan Non-Muslim selama periode ujian semester, peneliti tidak menemukan bukti dampak negatif Ramadan terhadap nilai ujian mahasiswa. Jurnal ini tidak sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yang menemukan bahwa mahasiswa yang merayakan Ramadan mengalami dampak negatif dalam prestasi akademik mereka. Tidak adanya efek dari puasa mungkin bisa dijelaskan dengan fakta bahwa mahasiswa beragama Muslim belajar beradaptasi dengan lingkungan Ramadan seiring berjalannya hari. Mengikuti ujian baik pada pagi atau sore hari juga tidak menunjukkan dampak terhadap hasil ujian mahasiswa. 

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<