Skip to content

Are women eco-friendly? Board gender diversity and environmental innovation

Grandma Test

Penulis : Muhammad Nadeem, Stephen Bahadar, dan Ammar Ali Gull

Tahun : 2020

Publisher : Wiley

Jurnal : Business Strategy and the Environment

Diulas oleh : Anggita Fiorella Moreni

PENDAHULUAN

Efek perubahan iklim baru-baru ini telah menyebabkan kemarahan publik atas dampak operasi bisnis terhadap lingkungan. Inovasi lingkungan adalah salah satu media utama bagi perusahaan untuk bertindak selaras dengan lingkungan guna mencapai keunggulan kompetitif dan legitimasi operasi bisnis mereka. Inovasi lingkungan, atau disebut juga inovasi hijau, secara umum didefinisikan sebagai produksi, asimilasi atau eksploitasi produk, proses produk, layanan atau manajemen, atau metode bisnis baru yang dapat mengurangi risiko lingkungan, polusi, dan dampak negatif lainnya dari penggunaan sumber daya dibandingkan alternatif lain yang relevan (Kemp & Pearson, 2007, p. 7). Menurut studi terdahulu (Cleff & Rennings, 1999; Del Rio Gonzales, 2009) terdapat empat faktor utama yang mendorong keputusan perusahaan mengenai inovasi lingkungan:  (1) biaya dan manfaat; (2) kebijakan publik atau regulasi terkait lingkungan; (3) faktor pendorong pasar; (4) strategi internal, seperti sistem pengelolaan lingkungan (EMS). 

Studi terdahulu (He & Jiang, 2019; Nadeem, Gyapong, & Ahmed, 2020) menyatakan bahwa keragaman dalam dewan membawa perspektif yang berbeda untuk keputusan yang sedang dipertimbangkan, sehingga dapat meningkatkan kepekaan dewan terhadap keberlanjutan dan lingkungan. Argumen ini dapat dilihat melalui dua teori yang menonjol: teori eselon atas dan teori sosialisasi gender. Menurut teori eselon atas, tata kelola tingkat atas menentukan kebijakan perusahaan yang memengaruhi hasil perusahaan, seperti kinerja lingkungan (Ntim & Soobaroyen, 2013). Selain itu, ciri-ciri psikologis dan sifat yang dapat diamati dari direktur memiliki dampak yang kuat pada kapasitas pengambilan keputusan mereka (Ntim & Soobaroyen, 2013). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di bawah teori eselon atas, perempuan dalam dewan, yang dikenal karena kepekaan mereka terhadap lingkungan, akan mempromosikan kebijakan perusahaan mengenai inovasi lingkungan.

Sedangkan menurut teori sosialisasi gender, dikatakan bahwa perempuan memiliki nilai dan sifat umum karena pola pengasuhan mereka (Liu, 2018), dan oleh karena itu, dewan yang beragam dalam gender lebih cenderung mengelola kepentingan pemangku kepentingan (Nadeem et al., 2020) dan mendorong keberlanjutan lingkungan (McGuinness , Vieito, & Wang, 2017). Maka dapat dikatakan bahwa representasi perempuan di dewan akan lebih mungkin untuk mendorong kebijakan perusahaan mengenai inovasi lingkungan. Namun, bukti empiris yang mendukung pendapat tersebut belum ada dalam literatur terdahulu. Dengan demikian, peneliti mengisi kekosongan dan secara empiris menguji hubungan antara BGD (board gender diversity) dan inovasi lingkungan. Peneliti menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara BGD dengan inovasi proses dan inovasi produk. Penemuan ini mendukung hipotesis peneliti bahwa representasi wanita dalam dewan direksi mendukung kebijakan perusahaan yang diperlukan untuk inovasi lingkungan. Lebih lanjut, peneliti juga melakukan analisis saluran, di mana ditemukan bahwa hubungan antara BGD dengan inovasi lingkungan kurang menonjol di perusahaan dengan profitabilitas yang lebih tinggi dan  lebih menonjol di perusahaan dalam industri yang peka terhadap lingkungan. Kemudian, untuk memastikan tidak ada permasalahan endogenitas, peneliti mengestimasi model dengan system GMM, 2SLS, dan estimasi Heckman two-stage.

Penelitian ini berkontribusi penting pada setidaknya dua aspek. Pertama, karena perusahaan menghadapi tekanan besar dari pemangku kepentingan dan konsumen untuk mengurangi dampak negatif mereka terhadap lingkungan, inovasi lingkungan dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, hasil penelitian menyoroti pentingnya direktur wanita dalam merumuskan kebijakan yang diperlukan untuk inovasi lingkungan. Kedua, perusahaan berada di bawah tekanan kuat untuk meningkatkan representasi perempuan dalam dewan karena tekanan sosial, tetapi konsekuensi ekonomi dari memiliki lebih banyak BGD belum mencapai konsensus. Dalam hal ini, peneliti menyajikan bukti lebih lanjut bahwa BGD dapat meningkatkan nilai pemegang saham dan keselarasan dengan lingkungan dengan menerapkan kebijakan inovasi lingkungan.

DATA & METODOLOGI

Peneliti menggunakan data indikator lingkungan yang paling sering digunakan yaitu ASSET4 periode 2002-2018. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sejumlah 10.334 observasi. Arena et al. (2018) memproksikan inovasi lingkungan dengan skor inovasi lingkungan dari data ASSET4 karena menurut mereka ASSET4 memberikan informasi yang objektif, dapat diaudit, dan sistematis yang divalidasi dalam literatur sebelumnya. Namun, studi mereka terbatas pada inovasi produk lingkungan berdasarkan ukuran komposit. Oleh karena itu, penelitian ini mengikuti Arena et al. (2018) untuk metode dan Tseng et al. (2013) serta Cuerva et al. (2014) untuk beberapa indikator yang berkaitan dengan inovasi lingkungan sebagai variabel dependen. Untuk melihat inovasi lingkungan digunakan dua ukuran, yaitu inovasi proses (PRC_INNV) dan inovasi produk (PRD_INNV). Penjelasan dari variabel dependen dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Variabel Dependen
PRC_INNVInovasi proses didasarkan pada indikator berikut: (a) tujuan efisiensi sumber daya/efisiensi energi; (b) tujuan efisiensi sumber daya/efisiensi air; (c) produk dengan desain ramah lingkungan; (d) proses pengurangan emisi/emisi; (e) pengurangan/kebijakan sumber daya; (f) pengurangan limbah. Nilai akhir PRC_INNV adalah penjumlahan dari keenam indikator di atas.
PRD_INNVInovasi produk didasarkan pada indikator berikut: (a) penggunaan produk yang bertanggung jawab terhadap lingkungan; (b) produk bangunan berkelanjutan; (c) inisiatif produk organik; (d) akses produk harga murah; (e) kualitas produk dan pemantauan tanggung jawab. Nilai PRD_INNV akhir adalah penjumlahan dari kelima (5) indikator di atas. 

Selanjutnya, peneliti mengikuti studi sebelumnya (Liu, 2018; Nadeem, 2020; Nadeem et al., 2020) untuk mengukur variabel independen, BGD, yakni proporsi direktur wanita terhadap total direktur. Peneliti juga menggunakan pengukuran dengan proksi lain, yaitu Blau Index (BLAU) dari keragaman gender. Blau Index diukur dengan formula sebagai berikut:

1-i=12Pi2

dimana i = (1, 2) nomor dari kategori gender (laki-laki dan perempuan) dan Pimerupakan proporsi dari setiap kategori (laki-laki dan perempuan) pada susunan direksi. 

Kemudian, peneliti mengontrol beberapa karakteristik spesifik dari perusahaan yang bisa berdampak pada hasil perusahaan. Ukuran dewan direksi (B_SIZE) sama dengan jumlah direktur pada direksi; independensi dewan direksi (B_INDE) yaitu persentase direktur independen pada dewan direksi; dualitas CEO (DUALITY) merupakan variabel biner yang bernilai 1 jika CEO adalah ketua dari direksi, dan 0 jika tidak. Peneliti mengontrol efek dari komite CSR dan komite tata kelola perusahaan (CG) melalui dua variabel indikator, yaitu, CSR_COMM (bernilai 1 jika perusahaan memiliki komite CSR, 0 jika tidak) dan CG_COMM (bernilai 1 jika perusahaan memiliki komite CG, 0 jika tidak). Peniliti juga mengontrol variabel keuangan perusahaan: ukuran perusahaan (F_SIZE yang diukur dengan logaritma natural dari total aset); leverage (LEV, yakni rasio total utang terhadap total modal); market to book value (MB, yaitu nilai pasar dibagi nilai buku); profitabilitas (ROA atau tingkat pengembalian asset); dan intensitas modal (CAPEX, yaitu aset bersih, pabrik, dan peralatan dibagi dengan total aktiva).

Untuk mengamati secara empiris dampak dari keragaman gender dalam susunan dewan direksi (BGD) pada inovasi lingkungan, model regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

ENV_INNVi,t = α0 + β1BGDi,t + β2B_SIZEi,t + β3B_INDEi,t + β4DUALITYi,t + β5CSR_COMMi,t + β6CG_COMMi,t + β7F_SIZEi,t + β8LEVi,t + β9MBi,t + β10ROAi,t + β11CAPEXi,t + INDUSTRY + YEAR + ϵi,t

(1)

dimana ENV_INNV adalah inovasi proses (PRC_INNV) atau inovasi produk (PRD_INNV).  

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan statistik deskriptif, rata-rata keragaman gender pada sampel ini adalah 15,83%. Peneliti juga melakukan analisis korelasi, di mana ditemukan bahwa korelasi antara BGD dengan PRC_INNV dan PRD_INNV positif dan signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa BGD memiliki asosiasi positif dengan inovasi lingkungan yang diukur dengan inovasi proses dan inovasi produk. Sebagian besar variabel kontrol, kecuali DUALITY dan CAPEX, juga memiliki hubungan positif dan signifikan dengan inovasi lingkungan. Namun, tidak ada korelasi yang melebihi 0,80 yang berarti tidak ada masalah multikolinearitas pada data. 

Untuk meneliti dampak BGD pada inovasi lingkungan, peneliti melakukan regresi OLS dan estimasi fixed-effect (FE) dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1. Dari hasil OLS, dapat dilihat bahwa koefisien BGD untuk PRC_INNV dan PRD_INNV adalah 0,014 dan 0,003 berturut-turut serta signifikan pada tingkat 1%. Hal ini berarti peningkatan persentase dari wanita yang berada pada dewan direksi sebesar 1% dapat meningkatkan inovasi lingkungan dengan peningkatan inovasi proses 0,014 poin dan inovasi produk 0,003 poin secara signifikan pada tingkat signifikansi 1%. Hasil estimasi FE juga menunjukkan hasil yang serupa, di mana koefisien BGD untuk PRC_INNV dan PRD_INNV secara berturut-turut adalah 0,007 dan 0,001 dan signifikan pada tingkat 1% dan 5%. Sehingga hasil estimasi ini mendukung hipotesis utama penelitian ini bahwa semakin besar representasi wanita pada dewan berhubungan dengan inovasi lingkungan yang lebih tinggi dengan proksi inovasi proses dan inovasi produk. Lebih lanjut, semakin besar dewan direksi dan lebih banyak direktur yang independen berkorelasi positif dengan inovasi lingkungan. Serupa dengan itu, memiliki komite CSR juga bermanfaat untuk inovasi lingkungan. Namun, dualitas dari CEO berkorelasi negatif dengan inovasi lingkungan. Terakhir, ukuran perusahaan yang lebih besar juga berkorelasi dengan inovasi lingkungan yang lebih besar.

Tabel 1. Dampak dari Keragaman Dewan pada Inovasi Lingkungan

Peneliti kemudian melakukan analisis lebih lanjut untuk menguatkan temuan utama. Pertama, dilakukan analisis subsampel untuk menemukan saluran bagaimana BGD dapat memengaruhi inovasi lingkungan. Saluran pertama yang mungkin adalah profitabilitas. Perusahaan yang lebih menguntungkan mungkin memiliki lebih banyak sumber daya untuk berinvestasi dalam inovasi lingkungan karena inovasi tersebut membutuhkan sumber daya yang besar dan komitmen jangka panjang. Di sisi lain, perusahaan yang sangat menguntungkan mungkin hanya ingin mengumpulkan kekayaan dan dengan demikian hanya sedikit atau tidak memperhatikan lingkungan. Sebaliknya, perusahaan yang kurang menguntungkan mungkin ingin mengurangi biaya, memanfaatkan sumber daya secara efisien, menarik lebih banyak pelanggan melalui kebijakan ramah lingkungan mereka, dan oleh karena itu cenderung lebih memperhatikan inovasi lingkungan. Maka, untuk menguji apakah hubungan inovasi lingkungan BGD dimoderasi oleh profitabilitas, peneliti membagi sampel menjadi perusahaan profitabilitas tinggi dan rendah dan meregresi model 1. Hasilnya konsisten bahwa hubungan inovasi lingkungan dengan BGD lebih menonjol di perusahaan yang kurang menguntungkan, yang berarti bahwa profitabilitas sebagian memoderasi hubungan. Namun, hubungan positif dan signifikan di kedua subsampel menunjukkan pentingnya inovasi lingkungan untuk setiap perusahaan. 

Kedua, saluran yang memungkinkan adalah sifat dari industri. Industri yang sensitif terhadap lingkungan cenderung lebih memperhatikan isu lingkungan karena dampaknya yang lebih tinggi terhadap lingkungan (Boiral & Heras-Saizarbitoria, 2017). Maka, direktur wanita bisa saja memilih bekerja di industri yang lebih hijau dan dengan demikian mungkin memiliki hubungan yang lebih kuat dengan inovasi lingkungan di industri yang tidak sensitif terhadap lingkungan. Peneliti memisahkan sampel menjadi industri yang sensitif dan yang tidak sensitif terhadap lingkungan. Perusahaan yang bergerak di industri agrikultur, kehutanan, perikanan, pertambangan, dan konstruksi dikategorikan sebagai industri yang sensitif terhadap lingkungan, sedangkan yang lainnya tidak sensitif. Hasil konsisten bahwa hubungan antara BGD dengan inovasi lingkungan lebih menonjol pada subsampel industri yang sensitif terhadap lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dimoderasi oleh jenis industri. 

Selanjutnya, peneliti juga menguatkan temuan utama mereka dengan menggunakan proksi alternatif untuk BGD dan inovasi lingkungan yang disesuaikan dengan industri (ADJ_ENV_INNV). Proksi alternatif untuk BGD adalah indeks keanekaragaman Blau (Blau Index). Hasil menunjukkan bahwa koefisien Blau Index positif signifikan untuk PRC_INNV dan PRD_INNV, yang berarti hasil utama penelitian ini robust terhadap pengukuran alternatif dari keragaman gender. Kemudian, hasil untuk pengukuran inovasi lingkungan yang disesuaikan dengan industri juga positif signifikan, yang berarti hasil utama penelitian ini robust akan variabel industri yang disesuaikan. 

Lebih lanjut, untuk memastikan tidak ada masalah endogenitas pada penelitian ini, peneliti melakukan tes endogenitas dengan SGMM, 2SLS, dan estimasi Heckman two-stage. Adapun, sumber endogenitas yang mungkin ada dalam penelitian ini adalah bias pemilihan, faktor tidak teramati yang dihilangkan (omitted unobservable factors), dan reverse causality. Hasil tes endogenitas dengan SGMM dan 2SLS dapat dilihat pada Tabel 2. Dapat dilihat bahwa BGD positif signifikan dalam semua spesifikasi, yang menunjukkan bahwa hasil utama penelitian ini tidak mengalami masalah endogenitas dan robust dari bias variabel yang dihilangkan (omitted variable bias) dan kausalitas terbalik (reverse causality). Hasil uji spesifikasi SGMM dan 2SLS juga menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan valid dan teridentifikasi dengan benar. 

Tabel 2 Hubungan BGD-Inovasi Lingkungan: Tes Endogenitas

Lalu, peneliti menggunakan model Heckman two-stage untuk mengatasi bias pemilihan (self-selection bias). Model diestimasi dalam dua tingkat, di mana inverse Mills ratio (IMR) diestimasi dari tahap pertama dan kemudian digunakan untuk mengontrol seleksi mandiri pada tahap kedua. Untuk menganalisis keputusan perusahaan untuk menunjuk direktur wanita, peneliti mengikuti penelitian sebelumnya (Bianco, Ciavarella, & Signoretti, 2015; Sila et al., 2016) dan variabel yang diidentifikasi, seperti B_SIZE, B_INDE, DUALITY, CSR_COMM, CG_COMM, F_SIZE, CAPEX, MB, dan ROA, yang dapat mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menunjuk direktur wanita di dewan. Peneliti menjalankan model probit berikut.

WOMEND= γ0 + γ1B_SIZE + γ2B_INDE + γ3DUALITY + γ4F_SIZE + γ5CAPEX + γ6CSR_COMM + γ7CG_COMM + γ8LEV + γ9MB + γ10ROA + ϵi,t

(2)

Dari nilai prediksi model 2, peneliti menghitung IMR dan menjalankan model 1 dengan memasukkan IMR untuk mengontrol bias pemilihan. Hasil dapat dilihat pada Tabel 3. Koefisien pada BGD signifikan secara positif (pada 1%) untuk PRC_INNV dan PRD_INNV, yang menunjukkan bahwa hasil utama kami juga robust terhadap bias seleksi mandiri.

Tabel 3 Estimasi Heckman Two-Stage

KESIMPULAN

Efek perubahan iklim baru-baru ini telah menyebabkan kemarahan publik atas dampak operasi bisnis terhadap lingkungan. Konsumen semakin menuntut produk yang bersumber dari sumber yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Karena meningkatnya kesadaran konsumen dan tekanan pemangku kepentingan pada perusahaan, tim manajemen puncak sekarang berada di bawah tekanan kuat untuk merancang kebijakan perusahaan yang ditujukan untuk keberlanjutan dan lingkungan perusahaan. Salah satu cara untuk menanggapi tuntutan konsumen dan tekanan pemangku kepentingan ini adalah dengan membuat kemajuan dalam inovasi lingkungan. Inovasi lingkungan, yaitu produksi barang dan jasa dengan dampak minimal terhadap lingkungan, tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga dapat menghasilkan pengurangan biaya dan efisiensi penggunaan sumber daya. 

Dalam studi ini, peneliti menguji hubungan antara keragaman gender dalam dewan (BGD) dan inovasi lingkungan yang diukur sebagai inovasi proses dan inovasi produk. Peneliti menemukan bahwa BGD memiliki hubungan positif yang signifikan dengan inovasi proses dan inovasi produk. Selain itu, ditemukan bahwa hubungan ini sebagian dimoderasi oleh profitabilitas dan jenis industri. Hasil ini mendukung teori eselon atas dan sosialisasi gender, yaitu bahwa direktur wanita, karena mereka lebih peduli pada kepentingan orang lain dan peka terhadap lingkungan, peran wanita menjadi penting untuk menggerakan inovasi lingkungan dalam perusahaan. Hasil ini penting bagi pembuat kebijakan setidaknya dalam dua cara. Pertama, dewan yang beragam dalam gender mungkin berada dalam posisi yang lebih baik untuk memimpin dengan merumuskan dan menerapkan kebijakan yang ramah lingkungan. Kedua, studi ini membuktikan bahwa representasi perempuan di dewan perusahaan dapat membawa perubahan positif pada lingkungan dengan memperkenalkan sarana produksi yang inovatif dan berkelanjutan.

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<