Skip to content

Am I Left Behind: The Rise of FOMO Among College Students

Primera

Pendahuluan

Penggunaan media sosial yang semakin meluas telah memudahkan kita untuk mengetahui informasi dari berbagai aktivitas sosial yang dilakukan oleh seseorang. Sisi baiknya, sumber daya sosial ini memberikan banyak kesempatan untuk berinteraksi; tetapi di sisi negatifnya, penggunaan media sosial terkadang membuat kita menginginkan lebih banyak pilihan untuk diambil dengan sumber daya dan waktu yang terbatas. Perilaku media sosial ini telah mendorong perhatian masyarakat terhadap konsep fear of missing out (FOMO). FOMO didefinisikan sebagai ketakutan seseorang terhadap pengalaman berharga yang mungkin dimiliki orang lain dan belum dimiliki oleh dirinya sehingga terdapat keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan oleh orang lain. Menurut penelitian, hampir sebanyak tiga per empat dari golongan muda mengalami fenomena FOMO ini (Przybylski et al., 2013). Adapun, sudut pandang yang dapat digunakan untuk memahami FOMO secara empiris adalah Self-Determination Theory (SDT; Deci dan Ryan, 1985), yaitu konsep di mana regulasi ataupun kontrol diri dan kesehatan psikologis yang efektif didasari oleh pemenuhan tiga kebutuhan psikologis: kapasitas bertindak dengan efektif (competence), inisiatif diri (autonomy), dan kedekatan dengan orang lain (relatedness). Dengan demikian, topik penelitian mengenai hubungan FOMO dengan berbagai variabel lain yang terkait menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Penelitian ini berupaya untuk menganalisis FOMO yang dipengaruhi dan memengaruhi beberapa variabel. Bagian pertama dalam penelitian ini menelaah bagaimana faktor gender, angkatan, jurusan, dan daerah asal dapat berkorelasi dengan FOMO. Sementara itu, bagian kedua mencakup aspek emosional, seperti psychological need satisfaction, overall life satisfaction, dan general mood. Terakhir, bagian ketiga mencakup aspek perilaku, yaitu social media engagement, ambivalent emotional experience, dan distracted learning. Melalui ketiga pendekatan ini, Divisi Penelitian Kanopi FEB UI melakukan penelitian yang bertujuan untuk menambah pemahaman berbasis empiris tentang FOMO.

Data Penelitian

Dalam penelitian kali ini, data yang digunakan meliputi 180 responden yang terdiri dari 79 laki-laki dan 101 perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner daring kepada mahasiswa/i aktif dari lima jurusan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yaitu Ilmu Ekonomi (36 orang), Akuntansi (33 orang), Manajemen (38 orang), Ilmu Ekonomi Islam (38 orang), dan Bisnis Islam (35 orang). 

Grafik 1. Jumlah Responden berdasarkan Jurusan dan Jenis Kelamin

Setiap jurusan terdiri dari mahasiswa yang berasal dari angkatan 2018-2021. Selanjutnya, kami membedakan asal daerah mahasiswa menjadi dua kategori, yaitu daerah Jabodetabek dan non-Jabodetabek. 

Grafik 2. Jumlah Responden berdasarkan Angkatan dan Daerah Asal

Bagian I:

Bagian I menunjukkan nilai fear of missing out (FOMO) berdasarkan jenis kelamin dan angkatan. FOMO dinilai menggunakan sepuluh pernyataan yang berisi kumpulan pengalaman sehari-hari seperti “saya merasa khawatir ketika mengetahui teman-teman saya bersenang-senang tanpa saya”. Pernyataan-pernyataan ini peneliti dapatkan melalui penelitian yang dilakukan oleh Przybylski et al. (2013). Pada kuesioner, pernyataan tersebut dipasangkan dengan lima poin skala Likert. Poin pertama, yaitu “sangat tidak benar untuk saya” hingga poin kelima yaitu “sangat benar untuk saya”. Selanjutnya, peneliti menghitung rata-rata dari sepuluh pernyataan dan menjadikan nilai tersebut sebagai nilai FOMO untuk setiap responden.

Hasil perhitungan nilai FOMO berdasarkan jenis kelamin di FEB UI menghasilkan nilai median 2,9 untuk pria dan 3 untuk wanita. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai FOMO wanita lebih tinggi 0,1 poin dibandingkan pria. Hasil ini divalidasi menggunakan uji Wilcoxon rank-sum test atau Mann-Whitney test di mana perbedaan tersebut terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 10%.

Grafik 1.1 Nilai FOMO berdasarkan Jenis Kelamin dan Angkatan

Selanjutnya, apabila dilihat berdasarkan angkatan, hasil perhitungan nilai FOMO di FEB UI menghasilkan nilai median berturut-turut 3; 2,8; 3,1; dan 3 untuk angkatan 2018, 2019, 2020, dan 2021. Apabila dilakukan regresi linear OLS dengan menggunakan FOMO sebagai variabel dependen, variabel dummy angkatan sebagai variabel independen, dan variabel dummy jurusan, asal daerah, dan jenis kelamin sebagai variabel kontrol, peneliti menemukan bahwa variabel dummy angkatan 2019 (bernilai 1 apabila mahasiswa angkatan 2019 dan 0 jika sebaliknya) terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 10% dengan koefisien sebesar -0,207, ceteris paribus. Artinya, mahasiswa FEB UI angkatan 2019 cenderung memiliki tingkat FOMO yang lebih rendah dibandingkan mahasiswa angkatan lainnya.

Bagian II:

  1. FOMO dan Psychological Need Satisfaction 

Untuk menguji hipotesis peneliti bahwa individu yang rendah dalam kepuasan kebutuhan psikologis (psychological need satisfaction) akan lebih mungkin mengalami FOMO, peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan FOMO sebagai variabel dependen; psychological need satisfaction sebagai variabel independen; dan variabel dummy jurusan, angkatan, asal daerah, jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Psychological need satisfaction dinilai menggunakan sembilan pernyataan dari skala kepuasan kebutuhan yang dirumuskan oleh La Guardia et al. (2000). 

Pada kuesioner, pernyataan tersebut dipasangkan dengan tujuh poin skala Likert. Poin pertama, yaitu “tidak benar sama sekali” hingga poin ketujuh, yaitu “sangat benar”. Pernyataan mencakup tiga macam kepuasan kebutuhan, yakni 1) autonomy, misalnya, “saya merasa bebas untuk memutuskan sendiri bagaimana menjalani hidup saya”; 2) competence, misalnya, “saya sering merasa tidak terlalu kompeten”; dan 3) relatedness, misalnya, “saya senang dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya”. 

Pernyataan seperti “saya senang dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya” merupakan contoh pernyataan yang akan bernilai positif. Sedangkan, pernyataan seperti  “saya sering merasa tidak terlalu kompeten” merupakan contoh pernyataan yang akan bernilai negatif. Karena pernyataan akan memiliki nilai tanggapan yang bersifat positif dan negatif, maka peneliti membalikkan beberapa nilai tanggapan yang bersifat negatif agar semua nilai tanggapan bersifat positif (reverse scoring). Selanjutnya, peneliti menghitung rata-rata dari sembilan tanggapan pernyataan sebagai nilai kepuasan kebutuhan untuk setiap responden. 

Dari hasil regresi OLS, peneliti menemukan bahwa variabel independen psychological need satisfaction terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 10% dengan koefisien sebesar -0,0979, ceteris paribus. Artinya, responden dengan kepuasan kebutuhan psikologis yang lebih rendah menunjukkan tingkat FOMO yang lebih tinggi. 

  1. FOMO dan Overall Life Satisfaction 

Untuk menguji prediksi peneliti bahwa FOMO memiliki korelasi negatif dengan kepuasan hidup secara keseluruhan (overall life satisfaction), peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan FOMO sebagai variabel dependen; overall life satisfaction dan general mood sebagai variabel independen; dan variabel dummy jurusan, asal daerah, angkatan, jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Overall life satisfaction diukur dengan penilaian mengenai kepuasan di empat aspek hidup yang diadaptasi dari (Przybylski et al., 2013) dengan menanyakan: “seberapa puas Anda dengan aspek-aspek berikut dari situasi Anda saat ini”.

Pada kuesioner, pertanyaan tersebut dipasangkan dengan lima poin skala Likert mulai dari 1 (sangat tidak puas) hingga 5 (sangat puas) untuk menilai empat aspek kehidupan yang terdiri dari kesehatan fisik, kesehatan emosional, hubungan personal, dan hidup secara keseluruhan. Selanjutnya, peneliti menghitung rata-rata seluruh nilai pertanyaan untuk memperoleh nilai kepuasan hidup gabungan untuk setiap responden. 

Dari hasil regresi pertama, peneliti menemukan bahwa variabel independen overall life satisfaction terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 10% dengan koefisien sebesar -0,151, ceteris paribus. Hasil ini mengindikasikan bahwa responden dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah secara keseluruhan cenderung menunjukkan tingkat FOMO yang lebih tinggi.

  1. FOMO dan General Mood 

Untuk menguji estimasi peneliti bahwa FOMO memiliki korelasi negatif dengan tingkat suasana hati (general mood) secara keseluruhan, peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan FOMO sebagai variabel dependen; general mood dan overall life satisfaction sebagai variabel independen; variabel dummy jurusan, asal daerah, angkatan, dan jenis kelamin sebagai variabel kontrol. General mood diukur dengan menggunakan sembilan pernyataan yang diadaptasi dari versi Indikator Emmons Mood yang dirumuskan oleh Diener & Emmons (1984). Responden diminta untuk merefleksikan kehidupan mereka dalam sebulan terakhir dan menilai sembilan kata sifat emosi berdasarkan seberapa sering mereka mengalami masing-masing dari sembilan sifat emosi ini. Beberapa kata sifat emosi tersebut di antaranya bahagia (happy), gembira (joyful), depresi (depressed), dan frustasi (frustrated). 

Pada kuesioner, pernyataan tersebut dipasangkan dengan lima poin skala Likert mulai dari 1 = “tidak sama sekali” hingga 5 = “sangat sering”. Tanggapan untuk kata sifat yang negatif (misalnya, frustasi dan depresi) nilainya telah dibalik oleh peneliti (reverse scoring) dengan nilai dari kata sifat yang positif (misalnya, gembira dan senang) untuk menghitung rata-rata nilai general mood secara keseluruhan untuk setiap responden. Dari hasil regresi pertama, peneliti menemukan bahwa variabel independen general mood terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 1% dengan koefisien sebesar -0,329, ceteris paribus. Hasil ini mengindikasikan bahwa responden dengan tingkat suasana hati yang lebih rendah secara keseluruhan cenderung menunjukkan tingkat FOMO yang lebih tinggi.

Bagian III:

  1. FOMO dan Social Media Engagement 

Untuk menguji hipotesis peneliti bahwa FOMO memiliki korelasi positif dengan keterlibatan sosial media (social media engagement), peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan social media engagement sebagai variabel dependen, FOMO sebagai variabel independen, dan variabel dummy jurusan, asal daerah, angkatan, dan jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Merujuk pada jurnal Human Behavior oleh Przybylski, et al. (2013), social media engagement diukur dengan serangkaian pertanyaan yang menilai seberapa sering mahasiswa FEB UI menggunakan sosial media (Instagram atau LinkedIn) dalam kehidupan sehari-hari. Setiap responden akan diinstruksikan untuk menjawab pertanyaan yang meliputi seberapa sering mereka menggunakan Instagram atau LinkedIn pada saat 15 menit sebelum tidur, 15 menit setelah bangun tidur, sarapan pagi, makan siang, dan makan malam dalam kurun waktu seminggu terakhir. Pada kuesioner, pertanyaan tersebut akan dipasangkan dengan delapan poin skala Likert. Poin pertama, yaitu “tidak satu hari pun” hingga poin kedelapan “setiap hari”. Selanjutnya, peneliti menghitung rata-rata dari lima tanggapan pertanyaan sebagai nilai penggunaan media sosial untuk setiap responden.

Dari hasil regresi, peneliti menemukan bahwa variabel independen FOMO terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 1% dengan koefisien sebesar 0,755, ceteris paribus. Artinya, individu yang mengalami tingkat FOMO yang lebih tinggi akan cenderung meningkatkan penggunaan sosial media (Instagram atau LinkedIn).

  1. FOMO sebagai Variabel Mediasi

Berdasarkan teori SDT yang telah dijelaskan di bagian awal, peneliti menduga bahwa tingkat kepuasan kebutuhan dasar yang rendah berhubungan dengan keterlibatan media sosial karena menyediakan jalan yang relatif tanpa hambatan bagi seseorang untuk tetap update dengan informasi orang lain (Ellison et al., 2007). Kaitannya bisa langsung; individu yang rendah dalam kepuasan kebutuhan dasar mungkin tertarik pada penggunaan media sosial karena dianggap sebagai sumber daya untuk berhubungan dengan orang lain, alat untuk mengembangkan kompetensi sosial, dan kesempatan untuk memperdalam ikatan sosial. Hubungan ini juga dapat bersifat tidak langsung; dihubungkan melalui FOMO. Hubungan tidak langsung dapat terjadi apabila kurangnya kebutuhan psikologis dasar dapat mengarahkan beberapa orang ke arah kepekaan umum terhadap FOMO. Dengan kata lain, FOMO dapat berfungsi sebagai mediator yang menghubungkan defisit kebutuhan psikologis dengan keterlibatan media sosial.

Untuk menguji hipotesis peneliti bahwa perbedaan individu dalam tingkat pemenuhan kebutuhan psikologis dasar—yang dapat diukur dengan variabel psychological need satisfaction (PNS), overall life satisfaction (OLS), dan general mood (GM)—dengan keterlibatan media sosial terjadi secara tidak langsung melalui tingkat FOMO, peneliti mengevaluasi tiga model mediasi Preacher dan Hayes (2008). Dengan menggunakan variabel kontrol dummy jurusan, asal daerah, angkatan, dan jenis kelamin, peneliti melakukan regresi linear OLS menggunakan variabel dependen FOMO dan variabel independen OLS, GM, dan PNS. Peneliti menemukan bahwa variabel independen GM terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 5% dengan koefisien sebesar -0,289, ceteris paribus (garis A Gambar 3.1). 

Selanjutnya, peneliti melakukan regresi OLS dengan menggunakan variabel independen dan kontrol yang sama namun dengan menggunakan variabel dependen SME. Peneliti menemukan bahwa variabel independen GM terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 1% dengan koefisien sebesar -0,957, ceteris paribus (garis C Gambar 3.1). Kemudian pada tahap terakhir peneliti melakukan regresi OLS dengan menggunakan variabel independen FOMO, OLS, GM, dan PNS serta variabel dependen SME. Peneliti menemukan bahwa FOMO secara signifikan menyumbang variabilitas dalam SME pada level signifikansi sebesar 1% (garis B Gambar 3.1), selain itu terbukti bahwa pengaruh GM berkurang secara substansial ketika FOMO dimasukkan secara bersamaan ke dalam model (dari koefisien -0,957 dengan level signifikansi sebesar 1% menjadi -0,746 dengan level signifikansi sebesar 5% yang digambarkan oleh garis C’ Gambar 3.1). 

Dari tiga regresi linear mediation model ini, terbukti bahwa FOMO dapat berfungsi sebagai mediator yang menghubungkan general mood dengan keterlibatan media sosial. Artinya tingkat general mood mahasiswa FEB UI yang rendah (tinggi) akan terkait dengan keterlibatan media sosial yang tinggi (rendah) hanya sejauh mereka terkait dengan tingkat FOMO yang lebih tinggi (rendah). Di sisi lain, peneliti tidak menemukan bahwa FOMO menjadi variabel mediasi antara OLS dan PNS dengan SME. 

Grafik 3.1 Ilustrasi Mediation Model

  1. FOMO dan Ambivalent Emotional Experience 

Untuk menguji hipotesis peneliti bahwa FOMO akan dikaitkan dengan emosi ambivalen yang tinggi saat menggunakan sosial media, peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan ambivalent emotional experience sebagai variabel dependen, FOMO sebagai variabel independen, dan variabel dummy jurusan, asal daerah, angkatan, dan jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Mereka yang sedang mengalami tingkat FOMO yang lebih tinggi, peneliti duga akan ditandai dengan perasaan ambivalen ketika menggunakan sosial media. Oleh karena itu, mereka akan melaporkan tingkat pengaruh positif dan negatif yang signifikan saat menggunakan Instagram atau LinkedIn.  

Ambivalent emotional experience dinilai menggunakan 10 item versi singkat PANAS-X yang terdiri dari lima kata sifat emosi positif dan lima negatif (Watson & Clark, 1994). Penilaian dikhususkan terhadap seberapa intens responden mengalaminya saat menggunakan sosial media selama seminggu terakhir. Pada kuesioner, pertanyaan tersebut dipasangkan dengan lima poin skala Likert. Poin pertama, yaitu “sangat sedikit atau tidak sama sekali” hingga poin kelima, yaitu “sangat sering”. Selanjutnya, peneliti menghitung rata-rata dari tanggapan pertanyaan pengaruh positif dan pengaruh negatif sebagai nilai emosional ambivalen untuk setiap responden. 

Dari hasil regresi, peneliti menemukan bahwa variabel independen FOMO terbukti signifikan secara statistik terhadap ambivalent emotional experience negative pada level signifikansi sebesar 1% dengan koefisien sebesar 0,407, ceteris paribus. Namun, ditemukan pula bahwa variabel FOMO tidak signifikan secara statistik terhadap Ambivalent Emotional Experience Positive. Artinya, responden yang mengalami tingkat FOMO yang lebih tinggi akan cenderung merasakan perasaan emosional negatif saat menggunakan Instagram atau LinkedIn. 

  1. FOMO dan Distracted Learning 

Untuk menguji hipotesis peneliti bahwa FOMO berkorelasi positif dengan penggunaan sosial media selama jam perkuliahan, peneliti melakukan model regresi linear OLS dengan menggunakan distracted learning sebagai variabel dependen, FOMO sebagai variabel independen, dan variabel dummy jurusan, asal daerah, angkatan, dan jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Distracted learning diukur menggunakan satu pertanyaan yang meminta responden untuk melaporkan jumlah kelas yang mereka abaikan (AFK) untuk bermain Instagram atau LinkedIn dalam kurun waktu seminggu terakhir (Przybylski, et al., 2013). Pada kuesioner, pertanyaan tersebut akan dipasangkan dengan lima poin skala Likert. Poin pertama, yaitu “tidak ada kelas yang diabaikan” hingga poin kelima “lima kelas diabaikan”. Setelah data didapat, peneliti akan menggunakan skor tersebut sebagai nilai distracted learning untuk setiap responden.

Dari hasil regresi, peneliti menemukan bahwa variabel independen FOMO terbukti signifikan secara statistik pada level signifikansi sebesar 1% dengan koefisien sebesar 0,386, ceteris paribus. Artinya, responden yang mengalami tingkat FOMO yang lebih tinggi akan cenderung mengabaikan kelas selama jam perkuliahan dengan memainkan sosial media (Instagram atau LinkedIn).

Kesimpulan

Seiring dengan peningkatan laju dan keterjalinan kehidupan online dan offline, orang-orang diuntungkan dan terkadang kesulitan dengan peningkatan peluang untuk berinteraksi. Penelitian ini menunjukkan mereka yang memiliki tingkat kepuasan rendah dengan kebutuhan dasar akan kompetensi, otonomi, dan keterkaitan cenderung memiliki tingkat ketakutan kehilangan yang lebih tinggi seperti halnya mereka yang memiliki tingkat suasana hati umum yang lebih rendah dan kepuasan hidup secara keseluruhan. FOMO dikaitkan dengan tingkat keterlibatan perilaku yang lebih tinggi dengan media sosial dan pengabaian terhadap proses pembelajaran. 

Reference

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11, 227-268. 

Diener, E., & Emmons, R. A. (1984). The independence of positive and negative affect. Journal of Personality and Social Psychology, 47, 1005–1117.

Ellison, N. B., Steinfield, C., & Lampe, C. (2007). The benefits of Facebook ‘‘friends’’: Social capital and college students’ use of online social network sites. Journal of Computer-Mediated Communication, 12, 1143–1168.

La Guardia, J. G., Ryan, R. M., Couchman, C. E., & Deci, E. L. (2000). Within-person variation in security of attachment: A self-determination theory perspective on attachment, need fulfillment, and well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 79, 367–384.

Preacher, K. J., & Hayes, A. F. (2008). Asymptotic and resampling strategies for assessing and comparing indirect effects in multiple mediator models. Behavior Research Methods, 40(3), 879–891. https://doi.org/10.3758/BRM.40.3.879

Przybylski, A. K., Murayama, K., Dehaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014

Watson, D., & Clark, L. A. (1994). The PANAS-X: Manual for the positive and negative affect schedule-expanded form. Unpublished Manuscript. University of Iowa.

Comment

Leave a Reply

KANOPI FEB UI

Sekretariat Kanopi FEB UI Lantai 2 Student Centre Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia Depok, 16424 – Indonesia

CONTACT US

Phone
+6281807160022

Email
executiveboard.kanopifebui@gmail.com

© kanopi-febui.org - 2021

MANAGED BY BIRO PUBLIKASI DAN INFORMASI

<